fbpx

Temukan Cara Bertahan Di Saat Wabah

SEBELUM MENGKRITIK KELUAR, KRITIK DULU KE DALAM (DIRI)

Jujur, saya mulai risi berada di sebuah grup wag, yang konon katanya isinya para pelaku usaha. Saya amati, kok isinya banyak mengeluh, mengkritik pemerintah dan berharap bantuan.
Saya ini, bukan orang kaya yang sudah berlebihan. Tapi saya ndak sreg dengan mental berharap-harap dapat bantuan pemerintah. Apalagi kalau mengaku punya usaha, pakai bendera pula.
Pengusaha itu ya harus kuat mentalnya, pantang mengiba-iba berharap bantuan sebegitu parahnya sampai mengkritik sesuatu yang kita sendiri belum tahu kejelasannya.
Okelah, katakan ada kecurangan dalam penyaluran bantuan, kalau memang itu betul. Dan kritikan dia benar. Lalu mau apa? Besok besok, bukan tidak mungkin akan ada situasi wabah atau bencana lagi.
Pertanyaannya, selama ini kita itu sudah ngapain?
Jangan jangan, pada dasarnya kita memang pemalas, atau pengusaha kecil yang asal-asalan, tapi kemudian mengatasnamakan situasi demi mendapat bantuan?
Lebih penting focus untuk mengkritik ke dalam diri, sebelum mengkritik keluar.
Mati-matian mengkritik keluar, tapi urusan dapur sendiri amburadul. Mau jadi apa?
Ayolah kawan kawan yang mengaku sebagai bakul cilikan, tolonglah, sudahi dulu kritik keluar, coba kritik ke dalam diri. Coba kritisi, jangan-jangan sebelum wabah pun, bisnis kita memang masih acak-acakan. Produksi asal-asalan, asal dapat untung. Melayani pembeli kurang ramah. Promosi kurang bagus. Atau sering menolak ilmu yang datang. Karena lebih senang mengandalkan bantuan uang daripada bantuan ilmu.
Justru, disaat seperti ini, mental wirausaha sedang diuji. Bukankah kita biasa mengucapkan dagang itu kadang untung kadang rugi. Anggap saja sekarang sedang rugi. Lalu pikirkan saja bagaimana biar bertahan.
Jangan marah dulu. Oke lah silahkan berharap bantuan.
Maksud saya, jangan hanya berharap pada bantuan, tapi perbaiki juga usaha di dalam. Yakin semua sudah maksimal? Yakin sudah melayani pelanggan dengan baik? Yakin produknya mampu bersaing? Yakin sudah disiplin? Yakin sudah on time melayani pesanan? Yakin sudah punya pembukuan?
Jangan jangan uang jualan masih nyampur dengan uang pribadi
Catatan seadanya itu pun di atas kertas sobekan
Ayolah, perbaiki ke dalam. Perbaikan ini kan sudah seharusnya dilakukan, bahwa sebelum wabah itu datang. Iya kan?
Jadi sekarang, ganti cara pandang. Bangkitlah dengan kekuatan wirausaha yang terhormat. Bukan berharap bisa bangkit karena orang lain. Itu adalah dua hal yang berbeda.
Katanya mau sukses. Mau kaya.
Mental kaya itu seperti apa? Renungkan sendiri.
Endapkan emosi pada segala bentuk bantuan bantuan itu
Katakan pada diri : saya mampu, saya bisa, saya kaya.
Begitulah seharusnya seorang pengusaha, meski cuma pengusaha kecil.

Ayo katakan #sayakaya #sayabisa #sayamampu

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

eight − 7 =